source: http://www.propertynbank.com/gamakarta-village-tawarkan-investasi-dan-nostalgia-di-kota-gudeg-jogja

BERITA PROPERTI – Bagi sebagian orang, Yogyakarta atau lebih dikenal dengan sebutan Jogja, banyak menyimpan kenangan sebagai kota yang penuh nostalgia. Kota ini pada masanya bahkan hingga saat ini, merupakan kota tujuan pendidikan paling utama di Indonesia. Sehingga, tak heran jika banyak yang berbondong-bondong menuju kota Jogja sebagai tempat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Mereka yang sempat tinggal di Jogja untuk menuntut ilmu, bahkan terlebih lagi yang memang berasal dari kota Gudeg ini, tak akan bisa melupakan berbagai kenangan yang pernah dialami. Tak jarang akhirnya, banyak yang memutuskan untuk kembali ke kota Jogja hanya sekedar untuk bernostalgia, mengenang masa lalu atau berencana untuk menetap di Jogja.

Adanya kerinduan orang-orang yang pernah tinggal serta pernah datang ke Jogja inilah, mendorong sejumlah alumni Universitas Gajah Mada (UGM) bersinergi menyatukan pengalaman dan kemampuan, mengembangkan kawasan hunian bertajuk Gamakarta Village. Ini adalah hunian komunitas yang dibangun dengan konsep Traditional Harmony dan Cultural Community.

“Jogja saat ini sudah menjadi lokasi untuk liburan keluarga karena semua serba murah dan terjangkau. Oleh karena itu, kami bersama teman-teman dari alumni UGM terikat dengan janji-janji setia alumni. Gamakarta Village yang kami kembangkan diatas lahan seluas 100 hektar, merupakan konsep bedol kota, yaitu mengembalikan orang-orang yang sudah keluar dari desa kembali lagi ke desa,” ujar CEO Gamakarta Village Rudi Umbara yang juga alumni dari UGM.

Gamakarta Village berlokasi dekat dengan kawasan Gunung Kidul yang masih asri dan dikelilingi beberapa Obyek Wisata. Kawasan hunian ini akan menghadirkan kehangatan serta nostalgia dengan suasana desa yang begitu akrab di Jogja. Calon pembeli bisa memiliki hunian di Gamakarta Village dengan membeli kavling-kavling yang sudah mulai ditawarkan sejak setahun lalu.

Contoh unit di Gamakarta Village yang banyak menggunakan kayu sebagai bahan utama

Harga kavling Gamakarta Village ditawarkan mulai dari Rp 70 juta per kavling sampai dengan Rp 300 juta per kavling. Type yang ditawarkan beragam, mulai dari ukuran 112 m2 hingga ukuran paling besar yaitu 700 m2. Dengan ukuran kavling cukup besar tersebut, akan memberikan keleluasaan bagi konsumen dalam menikmati hunian yang bangunannya di dominasi oleh kayu ini.

“Kami mengembangkan dengan konsep perumahan desa, yang memiliki halaman luas seperti rumah-rumah di Jogja tempo dulu. Rumah yang di depannya ada halaman saat ini sudah sangat langka. Yang ada malah parkiran motor dan mobil. Sedangkan di Gamakarta Village dengan tanah yang luas akan ada pohon buah yang saat ini sudah mulai kami tanam,” ujar Rudi yang menyambangi Property&Bank beberapa waktu lalu.

Saat ini, kata Rudi, pihaknya sedang mulai menanam bibit dan biji sejumlah pepohonan. Bahkan untuk pohon kecapi, dirinya langsung bawa dari Bogor. Rudi mengaku, pihaknya tidak terlalu buru-buru dalam mengembangkan Gamakarta Village. Target perusahaan menjual dan membangun kawasan tersebut maksimum 10 tahun.

“Respon terhadap kavling yang kami pasarkan sangat bagus karena sudah lebih dari 300 kavling terjual. Kami menargetkan akan ada sebanyak 2000 kavling di dalam kawasan ini. Tapi untuk kawasan pemukiman, kami targetkan dalam 6 tahun bisa selesai dibangun dan dihuni. Setelah itu kita selesaikan semua hingga 10 tahun,” tegas Rudi.

Gamakarta Village merupakan produk properti yang bisa dihuni oleh pemiliknya, atau bisa juga disewakan sebagai investasi. Pengembang sudah mengelompokkan kawasan hunian, kawasan home stay untuk di sewakan dan blok khusus untuk investor. Selain itu, seluas 4 hektar rencananya akan dijadikan Pondok Pesantren.

Disamping itu, akan ada senior house yang diperuntukan bagi penghuni lanjut usia. Senior house akan terdiri dari hunian sebanyak 100 hingga 200 unit. Rudi mengakui ide ini diambil dari senior living di kawasan Sentul dan Jababeka.

“Inilah bentuk pengabdian kami terhadap almamater dan Jogja pada umumnya. Namun sayangnya, pemerintah daerah Jogjakarta masih saja mempersulit dalam hal perijinan. Inilah bedanya dengan Jakarta, yang serba cepat dalam semua perijinan. Untunglah, di Jogja masih ada keraton yang juga memiliki kewenangan. Mudah-mudahan untuk selanjutnya hal ini bisa dipermudah agar iklim investasi di daerah, khususnya Yogyakarta terus tumbuh,” pungkas Rudi.